Film Dokumenter Tentang Indonesia

Setelah mengetahui secara pasti mengenai kebenaran di balik berita ke simpang siuran klaim Tari Pendet, saya menyadari bahwa tidak semua film-film dokumenter yang diputar di channel-channel seperti Discovery Channel, NGC, dan kawan-kawannya merupakan film buatan mereka sendiri. Atau dengan kata lain, beberapa film dokumenter tersebut merupakan hasil membeli dari pihak luar. Walaupun intro dari program tersebut bisa saja dibuat sendiri oleh Discovery Channel, dan tidak menggunakan intro dari pihak luar tersebut. Contohnya paling gampangnya adalah kasus Tari Pendet.

Hal tersebut membuat saya bertanya-tanya, kenapa banyak sekali program-program dokumenter di Discovery Channel yang membahas tentang Malaysia. Kenapa jarang sekali Indonesia diangkat ke dalam film dokumenter di channel-channel seperti ini. Atau kah mungkin karena jarang sekali di Indonesia membuat film dokumenter yang benar-benar bermutu dan berkualitas international? Padahal banyak sekali yang bisa diangkat menjadi suatu film dokumenter di Indonesia ini.

Kalau saya perhatikan film dokumenter Enigmatic Malaysia, kayaknya Indonesia pasti bisa membuat film dokumenter sejenis yang jauh lebih bagus. Atau mungkin karena di Indonesia banyak pihak-pihak pemilik dana berpikir kalau film dokumenter itu tidak bagus ratingnya dan membutuhkan biaya serta waktu yang tidak sedikit untuk melalukan risetnya? Jadi lebih memilih untuk membuat sinetron yang tiada henti.

Padahal kan apabila banyak yang membuat film-film dokumenter tentang Indonesia dan sangat berkualitas, pasti banyak pihak-pihak asing yang membelinya. Sehingga masyarakat dunia pun bisa mengetahui lebih dalam tentang Indonesia melalui film dokumenter tersebut. Indonesia juga tidak perlu khawatir apabila ada yang mengklaim suatu budaya, karena masyarakat dunia sudah mengetahuinya terlebih dahulu dari tayangan-tayangan film dokumenter.

Alasan Discovery Channel buat promosi sendiri karena film dokumenter KRU itu banyak permintaan dari berbagai negara Eropa. (source: Media Indonesia)

Untuk mendukung dibuatnya film-film dokumenter, sudah ada salah satu stasiun televisi swasta yang menyelenggarakan suatu kompetisi bernama Eagle Awards. Selain itu, saya juga baru tahu ternyata ada ajang sejenis yang digelar tahunan juga, yaitu Festival Film Dokumenter Indonesia. Mudah-mudahan saja ke depannya semakin banyak pihak-pihak yang mendukung (khususnya masalah pendanaan) dan berkeinginan membuat film-film dokumenter mengenai Indonesia, daripada marah-marah ngk jelas yang kadang tidak ada aksi lanjutan setelahnya (terlupakan kembali isunya karena ada berita lain yang menutupinya).